Tempat Makan Yang Asik Menjual Jajanan yang Enak ?

Banyak sekali pilihan tempat-tempat penjual makanan baik untuk sarapan maupun hanya untuk sekedar cemilan. Dari yang menyediakan makanan biasa-biasa aja seperti di pinggir jalan, di lokasi khusus yang dibangun untuk tempat jajan hingga lokasi bersantap di hotel-hotel mewah berbintang. “Mau cari tempat makan yang enak di mana yah ? “Ntar mo makan siang di mana nih!””Bosen makan di situ melulu, cari suasana lain yuuk ” Okelah ! Silahkan pilih. Untuk lebih lengkapnya berikut beberapa jenis tempat makan dan jajan yang biasa dikunjungi dan sesuai dengan keperluan acaranya. Dari mulai yang kecil hingga yang besar. Dari yang sederhana sampai yang berkelas :
Warung : Tempat orang berjualan bermacam-macam kebutuhan termasuk makanan dan minuman. Tapi kalau ada sebuah warung lalu diikuti dengan kata nasi, maka bisa dipastikan itu adalah tempat khusus untuk makan dan sarapan saja termasuk minuman. Warung ini ada yang buka sampai malam bahkan 24 jam ada juga cuma sampai jam 10 malam.
Warteg : Ini adalah singkatan dari Warung Tegal yang lebih spesifik lagi dan memang tempat untuk makan-makan. Entah karena pada mulanya yang buka warung ini adalah orang Tegal, tapi kuliner yang dijualnya memang, masakan khas Indonesia termasuk soto. Rumah makan kecil yang untuk sarapan pagi dan siang bahkan ada yang sampai malam ini belakangan makin populer dengan singkatan Warteg.
Kedai :> Istilah ini sama juga dengan warung makan. Di kedai banyak juga menyediakan minuman seperti kopi dan teh.
Rumah makan. Tempat ini memang spesial untuk makan-makan dari yang ringan sampai sarapan lengkap. Misalnya rumah makan Padang, rumah makan Sunda, Rumah makan khas Aceh dan lain-lain. Pada umumnya ruangan untuk sebuah rumah makan yang juga disingkat RM, lebih besar dari warung makan dan warteg serta kedai. Beberapa jenis minuman pastinya juga tersedia di sana.
Kafe. Tempat ini adalah semacam restoran juga tapi setting ruangannya berbeda karena dibuat khusus untuk suasana yang santai dan pengelolanya menyediakan juga hiburan musik dan lagi dari musisi-musisi yang diundang di sana. Makanan dan minuman yang dijual tidak terlalu berat seperti di rumah makan. Meski begitu cukup bikin kenyang pengunjung. Fasilitas lainnya adalah jaringan WiFi Internet. Jadi kafe ini lebih cocok untuk tempat nongkrong, kongkow-kongkow. Dibuka sampai malam hari.
Toko. Sejak dahulu tempat ini adalah untuk berjualan aneka macam barang termasuk juga makanan dan minuman. Secara spesifik lagi jika ada sebuah toko dengan menyertakan kata seperti : Toko Kue dan Toko Roti, maka toko itu memang hanya menjual khusus makanan saja untuk dibeli, bukan tempat untuk bersantap seperti halnya rumah makan.
Pasar Swalayan. Di pasar ini calon pembeli yang datang bisa memilih sendiri barang yang akan dibeli lalu bayar di kasir. Adakah tempat jajan di pasar ini ? Seperti biasa karena sebuah pasar adalah tempat yang ramai pengunjung maka di sekitarnya akan bertumbuhanlah bisnis-bisnis lain termasuk para penjual aneka jajanan makanan dan kue-kue plus minuman.
Mini market. Bermacam-macam produk ada dijual di tempat ini. Segala macam makanan, minuman, kebutuhan rumah tangga misalnya sabun, pasta gigi, sabun cuci, pembersih, obat-obatan ringan dan lain-lain, ada tersedia. Di mini market seperti juga pasar swalayan, para calon pembeli yang berkunjung bisa memilih dan mengambil sendiri barang-barang yang dicari. Itulah yang disebut dengan istilah swalayan. Jadi mini market dan super market adalah istilah asing dari pasar swalayan. Setelah memilih, lalu barang-barang belanjaan dibawa pulang ? Eit ! Bayar dululah di kasir, he he he, seperti di pasar swalayan tadi. Terus ada tempat jajankah di mini market ? Akhir-akhir ini juga di area mini market, misalnya di parkiran, ada beberapa counter kecil penjual makanan dan minuman.
Super Market. Tempat belanja ini sama dengan mini market tapi ukuran ruangannya lebih besar beberapa kali lipat. Dengan begitu tentu saja barang-barang yan dijual lebih banyak dan bervariasi. Berbeda dengan mini market yang di sekitarnya hanya ada konter kecil penjual kuliner, di supermarket bahkan ada restoran kecil dan kafe. Itu salah satu perbedaan dengan minimarket.
Hypermart. Istilah asing ini adalah sama seperti super market. Hypermart ini muncul pertamakali setelah hadirnya salah satu jaringan supermarket terkenal dari luar negeri. Seperti biasa di mana ada keramaian seperti hypermart ini maka berjamuran pula bisnis-bisnis lain di sekitarnya seperti tempat makan-makan dan aneka jualan kuliner.
Pujasera. Ini singkatan dari pusat jajan serba ada. Yang namanya jajan tentu lebih bernuanasa makan-makan dan juga beli makanan, kue, roti, minuman dan kuliner lainnya.
Toserba. Singkatan dari toko serba ada. Toserba ini mirip dengan mini market dan super market. Barang-barang yang dijual dari berbagai macam jenis dan kebutuhan termasuk makanan dan minuman.
Waserba. Ini adalah kependekan dari Warung serba ada. Yang namanya warung tentu juga menjual makanan dan minuman. Deengan makin banyaknya mini market, belakangan istilah waserba sudah tidak populer lagi.
Food Court. Istilah ini kurang lebih sama dengan pujasera. Hanya istilah saja yang berbeda. Food court berasal dari bahasa Inggris yang artinya adalah arena tempat makan-makan. Ada banyak penjual yang berdagang aneka jenis kuliner dan juga minuman di food court ini.
Restoran. Hampir semua orang pasti tau kata ini. Sama dengan rumah makan. Lokasi tempat makan-makan ini ada yang di pinggir jalan dan menempati gedung sendiri adapula yang berada di dalam satu gedung, hotel dan mall misalnya.
Resto. Istilah ini adalah kependekan dari restoran. Karena pengaruh pergaulan, kata restoran disingkat menjadi resto.
Mall. Ini adalah sebuah tempat berupa gedung yang terdiri dari beberapa lantai untuk tempat berkumpulnya para pedagang dan pengusaha berbagai jenis produk termasuk yang jualan makanan. Mini market, supermarket, Restoran, kafe, food court dan toko-toko kecil makanan pun pasti ada di mall ini.
Hotel Ini lebih besar lagi, dalam arti bangunannya. Di dalam sebuah hotel disamping ada tempat menginap dan perkantoran, tentu ada juga tempat bersantap yang umumnya adalah restoran dan kafe.
Oke ! Itulah beberapa lokasi untuk makan-makan dan juga jajan yang biasa dikunjungi yang masing-masing menawarkan berbagai layanannya untuk menarik para pengunjung yang ingin makan. Ada yang buka 24 jam adapula yang hanya sampai sore dan buka hingga tengah malam lalu tutup.Beberapa tempat jajan dan makan yang mahal ada juga yang bilang : “Ah di situ mah, menang tempatnya doang, makanannya kurang enak !”. Sebaliknya makan-makan dan beli jajanan di tempat yang nggak terlalu mahal dan juga murah, bisa juga malah nikmat. Semua memang banyak penyebabnya. Kalau lagi lapar, makanan yang biasa-biasa aja pasti jadi enak. “Namanya juga lapar…” Tapi kalau perut memang sudah kenyang, biar disuguhin makanan yang mahal bahkan gratis, apa masih mau disantap juga ? “He he he…perut sudah begah gini ditraktir makanan mahal ?” “Gimana yah ?” “Makan nggak yah ?”
Oke deh ! Selamat beraktifitas dan bersantap !
 

Baca Lagi Yang Lainnya :

 

Bangun Rumah, Beli Baru atau Cari Rumah Lama ?

Kalau ingin membeli rumah baru di mana saja itu lokasinya, tidak perlu memikirkan banyak tentang hal-hal teknis dibandingkan dengan membangun rumah. Banyak pilihan dari pengembang properti perumahan baik yang terkenal ataupun yang tidak, yang menawarkan berbagai fasilitas tempat tinggal untuk dihuni. Dari mulai kelas RSS sampai tipe Real Estate. Hunian dengan fasilitas pra sarana dari cluster-cluster dan perumahan dari berbagai kelas bisa dipilih. Standarnya tentu saja mengikuti tren properti kekinian, konsep masa depan.
Tinggal survey lokasi, mungkin bersama keluarga, cek rumah beberapa type dengan segala fasilitas yang ditawarkan termasuk lingkungannya bagaimana. Bila yakin cocok, langsung deal.
Beda halnya untuk membangun rumah baru. Pastinya juga harus mengikuti perkembangan jaman, konsep modern, gaya futuristik dan juga ada yang minimalis dan istilah dalam dunia properti lainnya. Banyak yang berpendapat kalau membangun rumah baru lebih puas dan sesuai keinginan si pemiliknya ketimbang membeli rumah lama. Rumah baru ketika pembangunannya berlangsung, setiap bagian-bagian dan sudut-sudut ruangannya tentu saja diketahui secara pasti dan bisa dikontrol. Dari mulai kamar mandi, toilet dan septic tank nya, ruang tamu, dapur dan kamar tidur termasuk garasi sampai atap rumah. Dengan catatan, yang punya rumah harus rajin mengawasi tukangnya. Kekhawatiran akan rapuhnya bahan-bahan bangunan, nyaris tidak ada. Tapi untuk membangun rumah baru biasanya waktunya lebih lama dibanding membeli rumah yang sudah jadi. Begitulah, namanya juga rumah baru, tentu menggunakan material bahan bangunan baru.
Lalu bagaimana dengan yang ingin membeli rumah lama ? Rumah yang pernah ataupun sedang ditempati oleh orang lain ? Ada yang bilang bahwa rumah lama itu sudah ketinggalan jaman modelnya, banyak yang nggak pas dengan selera pembelinya, jika dia berniat mau beli. Kalau membeli rumah yang sudah lama yang sudah pernah ditinggali terutama yang sudah belasan tahun, sangat berresiko karena tidak tau tentang kondisi bagian-bagian rumah. Itu berlaku untuk rumah komplek perumahan maupun rumah di kawasan perkampungan. Maka wajar saja ada orang yang beli rumah lama, meskipun masih terlihat mulus, kemudian melakukan rombakan besar, renovasi banyak dari mulai bagian depan sampai belakang.
“Wah ! ujung-ujungnya bisa memakan biaya yang tidak murah nih !” Kalaupun masih ada juga orang yang senang dan berniat membeli rumah lama, boleh jadi karena dia senang apa adanya, mungkin lingkungan sekitarnya terasa nyaman, daerahnya juga tampak asri, bebas banjir, lokasinya di pinggir jalan, strategis dekat dengan fasilitas umum, sekolah, pasar, mall dan tempat umum lainnya. Atau juga berniat untuk menjadikan rumah itu untuk tempat usaha yang tidak butuh banyak renovasi dan lain-lain penyebabnya. Barangkali juga rumah itu memang terkesan antik. Bentuknya yang unik, mungkin bergaya klasik tempo doeloe yang membuat orang suka. Atau …. beli rumah lama karena bekas ditempati oleh seorang artis terkenal ? “He he he … biar ikut ngetop juga deh !” Begitulah ! Namanya juga selera. Orangkan beda-beda Ada orang yang senang membangun atau membeli rumah baru di sebuah hunian yang futuristik, ada juga yang berniat membeli bangunan rumah gaya lama karena dia melihat ada keistimewaannya.
Yang jelas untuk mereka yang membeli rumah lama, apapun alasannya tentu harus dipikirkan juga untuk perbaikan-perbaikan. Namanya aja bangunan lama, pastinya ada material yang sudah tua, temboknya banyak retaklah, catnya sudah kusam, kayu kusen yang keropos dan lain-lain. Dan untuk yang senang membeli rumah lama karena alasan model kuno tapi antik dan keunikannya, dalam melakukan perbaikan, jangan sampai merubah bentuk aslinya. Kalau sampai banyak perubahan dan merubah bentuk aslinya yang unik untuk apa dibeli ? Tapi pastinya, baik mau membeli dan membangun rumah baru atau berniat membeli rumah lama, itu sama-sama harus punya dana cadangan, budget ekstra. Untuk apa ? Biasanya yang namanya membangun rumah ataupun renov rumah lama, ada aja yang kurang. Kalau tidak disikapi dengan bijak dan mengikuti hawa nafsu macam-macam, nambah itu, pasang ini, kurang di sana-sini, maka biaya untuk rumah akan jadi terus membengkak tak terkendali yang akhirnya tidak sesuai dengan rencana awal. Sama juga dengan beli rumah baru, meski relatif tidak terlalu besar biaya penambahannya. Persiapkan sebelumnya dengan cermat sebelum membeli tempat tinggal. Teliti Sebelum Membeli. Rencanakan dengan pasti dan tertulis agar tidak lupa mau punya rumah model apa dan bagaimana bentuknya.
 

Serba-Serbi Properti Lainnya :

 

Mau Beli Rumah Tinggal Di Mana ?

Tanah dan rumah di Jakarta dan kota-kota besar Indonesia lainnya setiap tahun harganya pasti naik bahkan cenderung kemahalan. Begitu juga dengan properti jenis lain misalnya ruko, apartemen, gudang, pabrik dan lahan perkebunan yang luas.
Yang namanya cari rumah tempat tinggal itu gampang-gampang susah. Kalau nggak hati-hati dan cermat bisa jadi bikin bingung pembeli yang malah akhirnya nggak jadi kebeli, uangnya sudah terlanjur berkurang untuk biaya ongkos ini itu dan macam-macam yang tak terduga.
“Cari rumah murah susah, kalo rumah yang mahal banyak”. Itu salah satu pendapat. Jadi lagi-lagi punya uang banyak akan lebih mudah memilih alias banyak pilihan.
Memang, jaman sekarang, karena kondisi finansial yang pas-pasan, misal punya uang hanya 100 juta, banyak orang yang membangun rumah tinggal dengan ala kadarnya. Misalnya sewaktu sudah jadi dan akan dihuni, beberapa sisi temboknya masih belum diplester sehingga masih kelihatan batu batanya. Atau kalaupun dindingnya sudah diplester tapi belum diaci, masih kasar alias belum mulus. Sebagian plafond di bagian dalamnya juga belum ada. Dan bagian-bagian lain dari rumah yang belum lengkap. Itu berlaku untuk rumah yang bukan komplek. Maklumlah keterbatasan budget. “Yang penting nggak kehujanan dan kepanasan dulu deh, Pak ! Nanti kalo ada uang, bisa nyicil untuk ngebagus bagusin lagi bagian-bagian yang belum selesai”. Dan yang lebih utama lagi adalah sudah punya surat-surat status kepemilikan rumah yang resmi dan lengkap, misalnya AJB dan Sertifikat Hak Milik. Sekali lagi ! : “Yang penting punya dulu, Pak, urusan rumah keren dan mulus, itumah nanti belakangan. Daripada nggak punya rumah dan terpaksa harus cari-cari kontrakan. Beda dengan rumah di perkampungan, kalau rumah di komplek, cluster dan hunian lainnya, sudah terencana dengan matang oleh pihak pengembang. Harga pun tentu saja berbeda dengan rumah kampung biasa.
Sehubungan dengan terus merangkak naiknya harga properti, biasanya kalau rumah seseorang yang ada di Jakarta dan kota besar lainnya laku dijual, nyari rumah lagi mengarah keluar kota Jakarta, misal di daerah Tangerang dan Bekasi bahkan Bogor, karena untuk orang-orang yang sudah tinggal puluhan tahun di Jakarta, membeli rumah tinggal di Jakarta lagi hampir mustahil dengan uang yang didapat dari hasil penjualan rumah tadi, kecuali yang masih senang tinggal di Jakarta, atau senang tinggal di apartemen. Kalau harus begitu mau nggak mau harus cari dana tambahan alias nombok.
Jakarta sepertinya bukan kawasan untuk perumahan lagi apalagi perkampungan seperti dulu. Jakarta untuk mereka-mereka yang mau membangun gedung dan mega proyek dan juga untuk pariwisata. Ada juga sih, yang masih senang di ibukota tersebut, tapi sudah benar-benar pinggiran, seperti di Lenteng Agung dan sekitarnya. Yang paling realistis untuk beli rumah tinggal harus di luar Jakarta, misalnya Bogor, Tangerang, Bekasi dan Depok. Jaraknya kejauhan ? Nggak juga, karena dengan dibangunnya infrastruktur perkotaan seperti jalan tol, Commuter, MRT, jalur kereta rel ganda hingga ke daerah Bogor dan Sukabumi, maka waktu tempuh menuju Jakarta bisa lebih cepat dibanding jaman dulu. Jadi sebetulnya selama masih di kawasan Jabodetabek, kini tidak ada yang namanya daerah terpencil apalagi terisolasi. Atau mungkin pembaca punya informasi tentang daerah terpencil dan terisolasi di Jabodetabek ? Tentu itu info menarik !
Baiklah ! Sekali lagi, harga properti setiap tahun naik terus termasuk di kota-kota besar lain di Indonesia. Salah satu yang menyebabkan mahalnya harga adalah ramainya daerah itu. Karena semakin ramai sebuah kota atau wilayah maka akan makin bisa menguntungkan pemilik bangunan karena daerah yang ramai bisa memanfaatkan propertinya untuk membuka usaha atau bisa juga disewakan. Demikian sekilas opini tentang properti. Selamat beraktifitas !
 

Serba-Serbi Properti Lainnya :