Mau Beli Rumah Tinggal Di Mana ?

Tanah dan rumah di Jakarta dan kota-kota besar Indonesia lainnya setiap tahun harganya pasti naik bahkan cenderung kemahalan. Begitu juga dengan properti jenis lain misalnya ruko, apartemen, gudang, pabrik dan lahan perkebunan yang luas.
Yang namanya cari rumah tempat tinggal itu gampang-gampang susah. Kalau nggak hati-hati dan cermat bisa jadi bikin bingung pembeli yang malah akhirnya nggak jadi kebeli, uangnya sudah terlanjur berkurang untuk biaya ongkos ini itu dan macam-macam yang tak terduga.
“Cari rumah murah susah, kalo rumah yang mahal banyak”. Itu salah satu pendapat. Jadi lagi-lagi punya uang banyak akan lebih mudah memilih alias banyak pilihan.
Memang, jaman sekarang, karena kondisi finansial yang pas-pasan, misal punya uang hanya 100 juta, banyak orang yang membangun rumah tinggal dengan ala kadarnya. Misalnya sewaktu sudah jadi dan akan dihuni, beberapa sisi temboknya masih belum diplester sehingga masih kelihatan batu batanya. Atau kalaupun dindingnya sudah diplester tapi belum diaci, masih kasar alias belum mulus. Sebagian plafond di bagian dalamnya juga belum ada. Dan bagian-bagian lain dari rumah yang belum lengkap. Itu berlaku untuk rumah yang bukan komplek. Maklumlah keterbatasan budget. “Yang penting nggak kehujanan dan kepanasan dulu deh, Pak ! Nanti kalo ada uang, bisa nyicil untuk ngebagus bagusin lagi bagian-bagian yang belum selesai”. Dan yang lebih utama lagi adalah sudah punya surat-surat status kepemilikan rumah yang resmi dan lengkap, misalnya AJB dan Sertifikat Hak Milik. Sekali lagi ! : “Yang penting punya dulu, Pak, urusan rumah keren dan mulus, itumah nanti belakangan. Daripada nggak punya rumah dan terpaksa harus cari-cari kontrakan. Beda dengan rumah di perkampungan, kalau rumah di komplek, cluster dan hunian lainnya, sudah terencana dengan matang oleh pihak pengembang. Harga pun tentu saja berbeda dengan rumah kampung biasa.
Sehubungan dengan terus merangkak naiknya harga properti, biasanya kalau rumah seseorang yang ada di Jakarta dan kota besar lainnya laku dijual, nyari rumah lagi mengarah keluar kota Jakarta, misal di daerah Tangerang dan Bekasi bahkan Bogor, karena untuk orang-orang yang sudah tinggal puluhan tahun di Jakarta, membeli rumah tinggal di Jakarta lagi hampir mustahil dengan uang yang didapat dari hasil penjualan rumah tadi, kecuali yang masih senang tinggal di Jakarta, atau senang tinggal di apartemen. Kalau harus begitu mau nggak mau harus cari dana tambahan alias nombok.
Jakarta sepertinya bukan kawasan untuk perumahan lagi apalagi perkampungan seperti dulu. Jakarta untuk mereka-mereka yang mau membangun gedung dan mega proyek dan juga untuk pariwisata. Ada juga sih, yang masih senang di ibukota tersebut, tapi sudah benar-benar pinggiran, seperti di Lenteng Agung dan sekitarnya. Yang paling realistis untuk beli rumah tinggal harus di luar Jakarta, misalnya Bogor, Tangerang, Bekasi dan Depok. Jaraknya kejauhan ? Nggak juga, karena dengan dibangunnya infrastruktur perkotaan seperti jalan tol, Commuter, MRT, jalur kereta rel ganda hingga ke daerah Bogor dan Sukabumi, maka waktu tempuh menuju Jakarta bisa lebih cepat dibanding jaman dulu. Jadi sebetulnya selama masih di kawasan Jabodetabek, kini tidak ada yang namanya daerah terpencil apalagi terisolasi. Atau mungkin pembaca punya informasi tentang daerah terpencil dan terisolasi di Jabodetabek ? Tentu itu info menarik !
Baiklah ! Sekali lagi, harga properti setiap tahun naik terus termasuk di kota-kota besar lain di Indonesia. Salah satu yang menyebabkan mahalnya harga adalah ramainya daerah itu. Karena semakin ramai sebuah kota atau wilayah maka akan makin bisa menguntungkan pemilik bangunan karena daerah yang ramai bisa memanfaatkan propertinya untuk membuka usaha atau bisa juga disewakan. Demikian sekilas opini tentang properti. Selamat beraktifitas !

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *